Senin, 09 Maret 2015

Hukum Tertawa dalam Islam

Hukum Tertawa dalam Islam
BOLEH kita untuk bahagia, menagis, ataupun tertawa tetapi semua itu ada batasnya. Karena hal yang berlebihan itu tidak baik.
Allah telah menciptakan tertawa, sebagaimana firmanNya:
وَأَنه ُُهوَ أَضحكَ وَأَبكى
“Dialah dzat Allah yang menciptakan tertawa dan menangis”
Memperbanyak ketawa adalah sifat tercela sebagaimana sabda Nabi:
وَالَّذِي نَفْسِي ِبيَدِهِ لَوْتَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا
“Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya seandainya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis “.
Jika ia berupa senyuman maka diperbolehkan menurut kesepekatan para ulama bahkan hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkannya sebagaimana terdapat dalam hadits Abdullah bin al Harits yang mengatakan, ”Tertawanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya sekedar senyum.” (HR. Tirmidzi) Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah.” (HR. Tirmidzi).
‪#‎Rasulullah‬ shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu mematikan hati.” Tsabit al Bananiy mengatakan, ”Tertawanya seorang mukmin adalah bagian dari kelalaiannya yaitu kelalaian terhadap perkara akherat dan jika dirinya tidak lalai maka tidaklah ia tertawa.”
Terkadang tertawa menyebabkan kekufuran apabila tertawanya untuk mengejek apa-apa yang diturunkan Allah atau sunnah Rasulullah.
•Tidak diperbolehkan berbohong untuk ditertawakan oleh orang lain, hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبَ لِيَضْحَكَ بِهِ اْلقَوْمُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celaka bagi orang yang berkata kemudian berbohong supaya orang-orang tertawa, maka celaka baginya, maka celaka baginya”.
Bercanda adalah perkataan yang dimaksudkan untuk melapangkan dada, dan tidak sampai menyakiti, bila menyakiti maka berubah menjadi mengejek.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang bersenda gurau:
• Hendaknya senda gurau dilakukan pada waktunya yang sesuai.
• Tidak tenggelam dan terlewat batas
• Tidak berbicara dengan perkataan yang buruk.
• Tidak bersenda gurau dengan memperolok-olok agama.
• Tidak bersenda gurau dengan orang-orang yang bodoh.
• Hendaknya menjaga perasaaan orang lain.
• Bersanda gurau dengan orang yang lebih tua dan alim dengan sesuatu yang pantas.
• Tidak terbuai sampai tertawa terbahak-bahak.
• Tidak memudharatkan diri sendiri
Kita ketahui bahwa banyak tertawa dapat menumpulkan hati. Dan Bahaya yang dapat menimpa setelah hati tumpul adalah hilangnya kepekaan terhadap masalah-masalah yang mendasar, hakiki.
Kita lalu lebih melihat kepentingan diri sendiri ketimbang hak orang lain yang justru menjadi kewajiban kita. Seiring dengan itu, anggapan kita yang bertalian dengan dosa dan maksiat menjadi lebih longgar.
Kita cenderung melecehkan dosa, memandang enteng dosa besar karena sudah umum dilakukan orang. Dosa kecil sudah di masukkan dalam lajur “mubah” karena sudah “membudaya”; dan pada gilirannya kita merasa lucu terhadap orang yang sibuk dengan ibadah dan soal-soal keakhiratan.
Sifat-sifat burukpun ber lomba memasuki hati, pikiran dan setiap celah dan ruang dalam batin kita. Kita jadi egois, pongah , serakah, dan pendengki. Dan ketika itulah mata batin kita buta, tidak lagi dapat menatap keindahan kehidupan rohaniyah yang indah kemilau itu.
Maka dari itu janganlah terlalu banyak tertawa agar kita terhindar dari hal-hal tersebut. Dan jangan juga tertawa hingga menimbulakan ketidaksukaan orang lain terhadap tertawa kita. Hindari tertawa yang dapat menimbulkan permusuhan atau perkelahian. Sedikit tertawa dan banyaklah Menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar