Minggu, 29 Maret 2015

Keutamaan Bangun Shalat Di Waktu Malam

KITAB RIYADHUS SHALIHIN :
Bab 212. Keutamaan Bangun Shalat Di Waktu Malam


Allah Ta'ala berfirman: "Dan dari sebagian waktu malam, maka lakukanlah shalat Tahajud, sebagai suatu amalan sunnah untukmu, mudah-mudahan Tuhanmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (al-Isra': 79)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Mereka sama meninggalkan tempat-tempat pembaringannya -untuk melakukan ibadah di waktu malam-." (as-Sajdah: 16)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Mereka itu sedikit sekali dari waktu malam yang mereka pergunakan untuk tidur." (az-Zariyat: 17)

1157. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Nabi s.a.w. itu berdiri untuk shalat malam, sehingga pecah-pecah kedua tapak kakinya. Saya berkata kepadanya: "Mengapa Tuan mengerjakan sedemikian ini, ya Rasulullah, padahal sudah diampunkan untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang dahulu dan yang kemudian?" Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Tidakkah saya ini seorang hamba yang banyak bersyukur." (Muttafaq 'alaih) Diriwayatkan dari al-Mughirah sedemikian itu pula. (Muttafaq 'alaih)

1158. Dari Ali r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mendatanginya dan Fathimah di waktu malam, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Apakah engkau berdua tidak shalat?" (Muttafaq 'alaih) Tharaqahu artinya mendatangi di waktu malam.

1159. Dari Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallhu 'anhum dari ayahnya bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Sebagus-bagus lelaki ialah Abdullah, andaikata ia suka shalat di waktu malam." Salim berkata: "Sejak saat itu Abdullah tidak tidur di waktu malam, kecuali sebentar sekali." (Muttafaq 'alaih)

1160. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si Fulan itu. Dulu ia suka sekali bangun shalat di waktu malam, tetapi kini meninggalkan bangun shalat waktu malam itu." (Muttafaq 'alaih)

1161. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Ada seorang lelaki yang disebut-sebut di sisi Nabi s.a.w., yaitu bahwa orang tersebut tidur di waktu malam sampai pagi -yakni tidak bangun untuk shalat malam-, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Orang itu sudah dikencingi oleh syaitan dalam kedua telinganya" atau beliau s.a.w. bersabda: "ditelinganya." (Muttafaq 'alaih)

1162. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Syaitan itu memberikan ikatan pada ujung kepala seorang diantara engkau semua sebanyak tiga buah, jikalau ia tidur. Ia membuat ketentuan pada setiap ikatan itu dengan kata-kata yang berbunyi: "Engkau memperoleh malam panjang, maka tidurlah terus!" Jikalau orang itu bangun lalu berdzikir kepada Allah Ta'ala maka terurailah sebuah ikatan dari dirinya, selanjutnya jikalau ia terus berwudhu', lalu terurai pulalah ikatan satunya lagi dan seterusnya, jikalau ia bershalat, maka terurailah ikatan seluruhnya, sehingga berpagi-pagi ia telah menjadi bersemangat serta berhati gembira. Tetapi jikalau tidak sebagaimana yang tersebut di atas, maka ia berpagi-pagi menjadi orang yang berhati buruk serta pemalas." (Muttafaq 'alaih) Qafiyatur ra'si yaitu ujung penghabisan dari kepala.

1163. Dari Abdullah bin Salam r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Hai sekalian manusia, ratakanlah -sebarkanlah- salam, berikanlah makanan, shalatlah diwaktu malam dimana para manusia sedang tidur, maka engkau semua akan dapat memasuki syurga dengan selamat." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1164. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama puasa bulan Ramadhan ialah bulan Allah yang dimuliakan -yakni berpuasa dalam bulan Muharram-, sedang seutama-utamanya shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat di waktu malam."(Riwayat Muslim)

1165. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Shalat sunnah di waktu malam itu dua rakaat dua rakaat, maka jikalau engkau takut masuknya shalat Subuh, maka berwitirlah dengan serakaat." (Muttafaq 'alaih)

1166. Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: "Nabi s.a.w. itu shalat di waktu malam dua rakaat dan berwitir dengan serakaat." (Muttafaq 'alaih)

1167. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. berbuka -tidak berpuasa- pada sebulan penuh, sehingga kita menyangka bahwa beliau s.a.w. tidak pernah berpuasa dalam bulan itu, tetapi kadang-kadang beliau s.a.w. berpuasa pada sebulan penuh, sehingga kita menyangka bahwa beliau s.a.w. tidak pernah berbuka sedikitpun dalam bulan itu. Tidaklah engkau menginginkan hendak melihat beliau shalat dari waktu malam, melainkan engkau akan dapat melihat beliau s.a.w. bershalat, tetapi tidaklah engkau menginginkan beliau s.a.w. tidur, melainkan engkau akan dapat melihat beliau s.a.w. sedang tidur." Maksudnya antara shalat malam dengan tidurnya itu demikian teratur waktunya, juga dilakukan tanpa berlebih-lebihan antara keduanya itu yakni sedang. (Riwayat Bukhari)

1168. Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu shalat sebelas rakaat, yakni di waktu malam. Beliau bersujud sekali sujud dari rakaat-rakaat tadi sekira -lamanya kira-kira ketika- seorang dari engkau semua membaca lima puluh ayat sebelum beliau mengangkat kepalanya. Beliau s.a.w. juga mengerjakan shalat dua rakaat sebelum shalat Fajar -shalat sunnah sebelum shalat Subuh-, kemudian berbaringlah pada belahan tubuhnya yang kanan -sesudah shalat sunnah dua rakaat tadi-, sehingga datanglah pada beliau itu orang yang mengajaknya untuk shalat Subuh -dengan berjamaah-. (Riwayat Bukhari)

1169. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat -sunnah-, baik dalam bulan Ramadhan ataupun selain Ramadhan. Beliau s.a.w. shalat empat rakaat, maka janganlah engkau bertanya betapa indah dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat rakaat, maka jangan pula engkau bertanya betapa indah dan panjangnya, kemudian shalat tiga rakaat. Saya -yakni Aisyah- lalu bertanya: "Ya Rasulullah, apakah Tuan juga tidur sebelum berwitir?" Beliau s.a.w. menjawab: "Hai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku itu tidur, tetapi hatiku tidaklah tidur." (Muttafaq 'alaih)

1170. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. itu tidur di permulaan malam dan bangun pada akhir malam lalu bershalat." (Muttafaq 'alaih)

1171. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Saya shalat bersama Nabi s.a.w. pada suatu malam, maka tidak habis-habisnya beliau s.a.w. itu berdiri sehingga saya bermaksud untuk melakukan sesuatu yang buruk." Ia ditanya: "Apakah yang hendak engkau maksudkan?" Ia menjawab: "Saya bermaksud untuk duduk lalu meninggalkan beliau s.a.w. -yakni tidak meneruskan ikut berjamaah dengan Nabi s.a.w. dan akan bershalat munfarid-." (Muttafaq 'alaih)

1172. Dari Hudzaifah r.a., katanya: "Saya shalat beserta Nabi s.a.w. pada suatu malam, maka beliau membuka -dalam rakaat pertama- dengan surat al-Baqarah. Saya berkata: "Beliau ruku' pada ayat keseratus, kemudian berlalulah." Saya berkata: "Beliau bershalat dengan bacaan tadi itu dalam satu rakaat, kemudian berlalu." Selanjutnya saya berkata: "Beliau ruku' dengan bacaan di atas itu, kemudian membuka -dalam rakaat kedua- dengan surat an-Nisa' lalu membacanya, kemudian membuka lagi -sebagai lanjutannya- surat ali-Imran, kemudian membacanya. Beliau s.a.w. membacanya itu dengan rapi sekali -tidak tergesa-gesa-, jikalau melalui ayat yang didalamnya mengandung pentasbihan -memaha sucikan Allah- beliaupun mengucapkan tasbih, jikalau melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliaupun memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta'awwudz -mohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik- beliaupun berta'awwudz -mohon perlindungan-. Kemudian beliau s.a.w. ruku' dan disitu beliau mengucapkan: Subhana rabbial 'azhim. Ruku'nya adalah seumpama dengan berdirinya -yakni perihal lamanya hampir sama-, selanjutnya beliau mengucapkan: Sami'allahu liman hamidah, Rabbana lakal hamd, lalu berdiri dengan berdiri yang lamanya mendekati ruku'nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan: Subhana rabbiyal 'ala, maka sujudnya itu mendekati pula akan berdirinya -tentang lama waktunya-. (Riwayat Muslim)

1173. Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. ditanya: "Shalat apakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu lama berdirinya" (Riwayat Muslim) Yang dimaksud dengan lafaz alqunut ialah berdiri.

Keterangan:
Bila shalat berjamaah maka dianjurkan untuk tidak melama-lamakan berdiri, karena dari jamaah mungkin ada yang sudah tua, ada wanita, dan anak-anak.

1174. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda padanya: "Shalat yang paling dicintai oleh Allah ialah shalatnya -Nabi- Dawud dan puasa yang paling dicintai oleh Allah ialah puasanya -Nabi- Dawud. Ia tidur separuh malam, bangun shalat yang sepertiganya dan tidur yang seperenamnya. Ia berpuasa sehari dan berbuka -yakni tidak berpuasa- sehari." (Muttafaq 'alaih)

1175. Dari Jabir r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya di waktu malam itu ada suatu saat yang tidak didapati oleh seorang Muslim yang di waktu itu memohonkan suatu kenaikan kepada Allah, baik dari urusan ke duniaan atau akhirat, melainkan Allah akan memberikan -mengabulkan- permohonannya tadi. Yang sedemikian ini ada di setiap malam." (Riwayat Muslim)

1176. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Apabila seorang diantara engkau semua bangun di waktu malam, maka hendaklah membuka -memulai- shalatnya dengan dua rakaat yang ringan." (Riwayat Muslim)

1177. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu apabila bangun di waktu malam, maka beliau membuka -memulai- shalatnya dengan dua rakaat yang ringan." (Riwayat Muslim)

1178. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu apabila terlambat melakukan shalat malam karena sakit atau lain-lain, maka beliau s.a.w. shalat dua belas rakaat di waktu siang harinya." (Riwayat Muslim)

1179. Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang tertidur sampai meninggalkan bacaan hizibnya atau sesuatu bagian dari hizibnya itu -yang dibiasakan membaca- di waktu malam, lalu ia membacanya diantara shalat Fajar -Subuh- dan shalat Zuhur, maka dicatatlah -pahala- untuknya seolah-olah ia membacanya itu di waktu malam." (Riwayat Muslim)

1180. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam dan membangunkan istrinya, lalu apabila istrinya enggan, lelakinya itu memercik-mercikkan air di mukanya. Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya dan apabila suaminya itu enggan, lalu memercik-mercikkan air di mukanya." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1181. Dari Abu Hurairah r.a. dan dari Abu Said radhiallahu 'anhuma, keduanya berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau seorang lelaki itu membangunkan istrinya di waktu malam, lalu keduanya shalat atau mengerjakan shalat dua rakaat semua, maka dicatatlah termasuk golongan orang-orang lelaki dan perempuan yang ingat -kepada Allah-." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1182. Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Jikalau seorang diantara engkau semua mengantuk dalam shalat, maka hendaklah ia tidur dulu sehingga lenyaplah kantuk itu dari dirinya, karena sesungguhnya seorang diantara engkau semua itu jikalau shalat sedang ia mengantuk, barangkali ia bermaksud hendak memohonkan pengampunan, tetapi lalu memaki-maki dirinya sendiri." (Muttafaq 'alaih)

1183. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau seorang diantara engkau semua bangun di waktu malam lalu membaurlah al-Quran itu pada lisannya -yakni tidak jelas lagi bacaannya sebab mengantuk-, kemudian ia tidak dapat mengetahui lagi apa yang dibaca olehnya -yakni tidak lagi memperhatikan isi dan maknanya-, maka baiklah ia berbaring -yakni tidur saja dulu-."(Riwayat Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar